Tulisan: Fitra Ramdhani S.T M.T

Mati Surinya Terminal AKAP Payung Sekaki


Ditulis oleh Hizra Marisa, pada : 15 Februari 2016 09:07:56 WIB


Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (TBRPS) merupakan terminal terbesar yang ada di Kota Pekanbaru, dengan jangkauan pelayanan ke seluruh wilayah Pulau Sumatera dan beberapa kota di Pulau Jawa. Semenjak beroperasi pada tahun 2006, Terminal Bandar Raya Payung Sekaki tidak berfungsi secara optimal. Banyak aspek yang menjadi penyebab tidak optimalnya fungsi Terminal Bandar Raya Payung Sekaki tersebut. Disini saya hanya meninjau dari satu aspek saja yakni dari segi TATAGUNA LAHAN disekitar Terminal Bandar Raya Payung Sekaki tersebut.

Jika dilihat dari perencanaan Terminal Bandar Raya Payung Sekaki ini sudah sesuai dengan rencana jangka panjang Kota Pekanbaru. Pemilihan lokasi dinilai tepat karena sesuai dengan jaringan jalan ke dalam dan ke luar Kota Pekanbaru. Sedangkan, jika dilihat dari gambaran yang diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan yang menggambarkan persepsi masyarakat dan keadaan dilapangan, maka diperoleh kesimpulan bahwa faktor penyebab tidak optimalnya fungsi terminal adalah banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak bus baik bus AKAP maupun AKDP sehingga tumbuh terminal-terminal bayangan disekitar Terminal Bandar Raya Payung Sekaki.

Hal ini dikarenakan kurangnya peran dan kerjasama aparat pemerintahan dalam menegakkan peraturan yang sudah ada. Tetapi di sini saya tidak akan membahas detail hal tersebut, yang akan saya bahas adalah tentang tidak efektif nya penggunaan atau pemanfaatan lahan di sekitar terminal tersebut.

Tata guna lahan disekitar lokasi terminal payung sekaki hanya merupakan lahan tidur atau lahan kosong tanpa bangunan berarti yang mampu menjadikan kawasan di sekitar terminal menjadi ramai di setiap waktu. Seperti tanpa adanya bangunan-bangunan ruko, hotel, rumah makan di luar terminal, atau lainnya yang akan membuat suasana di sekitar terminal penumpang ini menjadi ramai, tentunya hal ini akan mengurangi tindakan kriminal terutama di malam hari.

Saat ini lokasi di sekitar terminal hanya di jadikan lahan kosong atau kebun sawit, jikapun ada hanya rumah penduduk non permanen, dan bangunan liar yang banyak dikomersilkan seperti warung yang menjual minuman keras yang memang ramai hingga pagi tapi hanya diisi oleh para pemabuk dan pencari hiburan kelas bawah, dan disekitar itu juga terdapat warung remang-remang tempat karaoke, dan apabila telah melewati pukul 7 malam, beberapa ruas jalan sekitar lokasi hanya terdapat penjual jagung, dengan pelanggan muda mudi yang lagi kasmaran sehingga menjadi tempat mesum dan ajang adu balap geng motor.

Seyogyanya, terminal beroperasi 24 jam, namun tanpa disadari terminal itu tutup pada pukul 19.00 WIB, dan baru buka pada pukul 07.00 WIB. Kenapa ? Karena mobil bus yang datang pada rentang waktu “tutup” tadi tidak mau menurunkan penumpangnya pada terminal BRPS tersebut disebabkan oleh sunyinya terminal pada waktu tersebut, sehingga rawan kejahatan bagi para penumpang, seperti disampaikan oleh salah seorang sopir bus LORENA, dan dengan alasan yang sama disampaikan oleh salah seorang penumpang yang tidak mau turun di terminal BRPS tersebut, yaitu mereka lebih memilih tidur di pool LORENA dibandingkan turun dan tidur diterminal BRPS yang sunyi untuk menunggu waktu hingga pagi tiba ketika melakukan perjalanan dari kota Medan.

Jadi sekali lagi hal ini disebabkan oleh sunyinya kawasan terminal BRPS pada waktu siang, apalagi pada waktu malam hari. Di karenakan tata guna lahan di sekitar terminal tersebut yang masih belum maksimal dimanfaatkan yakni masih berupa lahan kosong.

Dari uraian tadi di sini saya memberikan sedikit argumen, tidak adanya bangunan komersil di sekitar kawasan bandar raya payung sekaki inilah yang merupakan penyebab utama tidak ramainya kunjungan penumpang baik yang datang maupun keluar Kota Pekanbaru.

Hal ini hendaknya mampu disadari oleh pemerintah pada waktu perencanaan pembangunan terminal tersebut tidak memproteksi mengenai kepemilikan tanah di sekitar terminal. Seandainya, pada saat perencanaan pembangunan terminal, para pemilik lahan di sekitar terminal mengetahui pengembangan kota Pekanbaru dalam jangka panjang kemudian mengajak mereka untuk membuka investasi di sekitar terminal. Misalnya saja, salah satu pemilik lahan di sekitar terminal membangun pusat perbelanjaan maka akan menarik para investor lainnya, untuk segera melakukan pembelian tanah sekitar lokasi yang akan di bangun terminal tersebut. Inilah hal yang tidak di sadari hingga sekarang, kawasan yang mestinya menjadi sebuah kawasan yang ramai, malah hanya menjadi sebuah kawasan yang di kelilingi kebun sawit dan lahan kosong.

Jika nantinya dibangun kawasan disekitar terminal oleh para pemilik lahan atau investor tersebut seperti mall, perumahan, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya, maka terminal tersebut akan menjadi seperti MAGNET yang menarik penumpang (masyarakat) dan pengusaha jasa angkutan untuk menjadikan TERMINAL BRPS tersebut kembali pada fungsi dasarnya.

Optimalisasi terminal bandar raya Payung Sekaki atau yang juga dikenal dengan Terminal AKAP Payung Sekaki hanya dapat tercapai jika semua kendala-kendala tersebut diatas dapat di selesaikan, dan ini memerlukan kerja keras dari setiap komponen yang terlibat di dalamnya, perlu tindakan tegas dan nyata dari pemerintah, perlu kerjasama dari pengusaha angkutan dan perlunya campur tangan pemerintah untuk segera menjadikan kawasan sekitar terminal menjadi ramai dengan mendorong para pemilik tanah atau investor untuk membangun tanah–tanah yang mereka miliki menjadi sentra bisnis, yang nantinya secara tidak langsung akan menjadikan kawasan tersebut ramai 24 jam, dan terminal tersebut akan menjadi optimal fungsinya.

Saran saya, Pemerintah harus segera menarik para investor untuk menjadikan lahan kosong di sekitar Terminal menjadi bangunan Komersil dan melakukan pendekatan dengan para pemilik lahan untuk mendirikan bangunan komersil pada tanah yang mereka miliki yang nantinya akan menjadi magnet untuk pemilik lahan juga. Jadi, dengan ramainya kawasan di sekitar terminal tersebut maka, pemerintah tidak perlu lagi membuat peraturan yang juga tetap dilanggar.

 

======================================

Tentang Penulis: Fitra Ramdhani S.T M.T, tercatat sebagai salah satu dosen di Prodi Teknik Sipil Universitas Abdurrab. Selain mengajar, dosen perempuan ini juga menjabat sebagai Sekretaris Prodi Teknik Sipil periode 2015-2019. Dosen kelahiran 18 Mei 1987 ini menempuh magisternya di ITB pada program Teknik Sipil Bidang Rekayasa.

======================================

Berita Lainnya
09 Februari 2016 12:14:56 WIB

Kualitas Wanita Untuk Penguatan Bangsa

Peningkatan kualitas perempuan Indonesia selama ini berkaitan dengan kebijaksanaan menangani

02 April 2016 15:02:44 WIB

Mahasiswa Modern Hilang Semangat Mengenal Allah

Tuntutan dalam pendidikan ternyata tidak sepenuhnya menghasilkan generasi baik. Disaat

26 Januari 2016 10:09:28 WIB

e-ASEAN: Peran Perguruan Tinggi dalam Integrasi Teknologi

Sebuah tagline ldquo;Dunia dalam genggamanrdquo; bukan lagi sebuah wacana, terutama