OSCE: Disaat Ketahanan Mental Calon Dokter Diuji


Ditulis oleh Hizra Marisa, pada : 27 Februari 2016 10:04:22 WIB


UNIVRAB - Muka-muka tegang terasa ketika memasuki ruang OSCE (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan) FKIK UNIVRAB di lantai 2 Gedung Tarikh bin Ziyad pada Sabtu (27/02) pagi ini. 13 mahasiswa Kedokteran UNIVRAB tampak duduk dikursi yang disediakan di depan station room. 2 mahasiswa dan 11 mahasiswi tersebut tengah mengikuti OSCE. Salah satu rangkaian tes bagi mahasiswa Kedokteran yang sedikit banyak sangat menentukan nasib pendidikan mereka. Suasana hening sangat terasa, semua alat elektronik seperti handphone baik peserta dan tiap orang yang ada di ruangan lantai 2 harus disimpan di loker yang telah disediakan panitia.

Objective-Structured Clinical Examination disingkat OSCE merupakan rangkaian ujian klinis yang terstruktur dan dinilai secara objektif oleh Tim Penguji yang terdiri dari beberapa dokter pilihan dan Penyelia Pusat. Tes ini diadakan tiap tiga bulan sekali dalam setahun.

Sabtu ini ketigabelas mahasiswa Kedokteran UNIVRAB mengikuti OSCE UKMPPD dengan dr Wiwien Sugih Utami M.Sc sebagai Penyelia Pusat yang berasal dari Brebes. Ditemui disela kegiatan OSCE, dr Feriandri Utomo M.Biomed selaku Korordinator OSCE menyatakan bahwa ada 3 penguji eksternal yakni dr Rahma Yuantari M.Sc SpPK, dr Asri Hendrawati M.Sc dan dr Putrya Hawa M.Biomed. Tampil sebagai penguji yakni dr May Valzon M.Sc yang juga merupakan Dekan FKIK UNIVRAB, dr Lasiah Susanti MPH, dr Faisal SpPD, dr Rahayu Suharmadji SpA, dr Zulfikri SpA, dr Lasmaria Flora S M.Kes SpAn, dr Asrizal SpPD FINASIM, dr Arvan SpOG, dr Dedi Rinaldi SpP, dr Cherlina SpA, dr Zulhendri SpB, dr Elly Anggreny SpKJ, dr Hendra F Saragih SpRad, dr Nursal Hasbi SpB dan dr Juhesni SpOG.

"OSCE ini merupakan ujian klinis dimana tiap mahasiswa yang mengikuti akan diuji kemampuan prakteknya, bagaimana menghadapi pasien. Disini kita siapkan 13 stations, tiap station ada satu case yang harus dia praktekkan dan pecahkan kasusnya, dihadapan penguji dan dinilai secara online." ucap dr Feri yang juga Wakil Dekan FKIK UNIVRAB menjelaskan.

Ditambahkan oleh Wike Wahyuni yang bertugas sebagai admin acara, bahwa inilah yang menentukan nasib akademik para calon dokter. Mahasiswa Kedokteran yang telah KOAS selanjutnya akan diuji coba kembali di OSCE ini. Tiap mahasiswa hanya akan diberi kesempatan 15 menit perstation selanjutnya setelah waktu habis mereka akan rolling atau berganti ke station yang lain dengan masalah penyakit dan pasien yang berbeda.

Menariknya, dari perbincangan dengan para dokter penguji dan peserta, didapati bahwa sebenarnya ketahanan mental peserta lah yang diuji, seberapa besar penguasaan calon dokter tersebut terhadap masalah yang ada, sejauh apa ia bisa menangani pasien baik dari segi kontrol emosi, pembagian waktu dan efektifitas solusi.

"Ini lebih kepada manajemen emosi dan waktu, karna ketika ia menjadi dokter kelak, yang dibutuhkan pasien adalah dokter yang cakap dalam penguasaan solusi, medis dan jiwa pasien. Bisa menenangkan pasien, tidak panik dan manajemen waktu yang bagus." ucap Feri menambahkan.

OSCE hari ini merupakan tes online serentak se-Indonesia. Semua Fakultas Kedokteran di Indonesia tengah melaksanakan tes ini. Nilai yang diberikan penguji nantinya akan dikirim secara online ke Pusat dan pengumumannya akan diumumkan sebulan setelah tes di Forum Dekan Fakultas Kedokteran Indonesia.

Hal menarik lainnya dari tes ini adalah para orang-orang yang berperan sebagai pasien dalam tes ini pun mendapatkan sertifikat dan dilatih jauh-jauh jari sebelum tes dilaksanakan. Ini disampaikan langsung oleh dr Dea May Fitry selaku Pelatih PS (Pasien Standar). Dokter muda ini menjelaskan bahwa ia dan dua dokter lainnya yakni dr Juhesni SpOG (K) dan dr Olvaria Misfa sudah melatih para pasien standar ini, mereka biasanya terdiri dari mahasiswa ataupun pekerja yang terlatih sebagai pasien untuk tes OSCE.

Terkait masalah kelulusan, para panitia insyaallah percaya bahwa apapun hasilnya, para peserta telah melakukan usaha semaksimal mungkin. OSCE juga membuktikan bahwa untuk dapat disebut sebagai dokter, seorang mahasiswa kedokteran bukan hanya ditempa secara akademis namun juga mental dan kecerdasan emosinya (EQ -red).***(Hizra - HUMAS UNIVRAB)

Berita Lainnya
13 Maret 2017 14:35:46 WIB

HIMA Keperawatan UNIVRAB Bantu Korban Bencana Alam Pangkalan SUMBAR

UNIVRAB. Bencana alam yang malanda wilayah Pengkalan Propinsi Sumatra Barat

03 Juni 2016 08:21:30 WIB

Mahasiswa UNIVRAB Dihimbau untuk Beri Kritik dan Saran Kepada TVRI Riau Kepri

UNIVRAB -Gedung Thariq bin Ziyad, Rabu (01/06). Puluhan mahasiswa dan

26 Januari 2016 19:37:56 WIB

Prodi Kebidanan UNIVRAB Laksanakan Musyawarah Ranting Ikatan Bidan Indonesia

UNIVRAB - Ruang Serbaguna Universitas Abdurrab (UNIVRAB) dipenuhi oleh belasan