Tulisan: Diki Arisandi M.Kom

Jadi Monggo, Silahkan Bajak Lagu Ini !


Ditulis oleh Hizra Marisa, pada : 15 Maret 2016 20:01:28 WIB


Judul opini ini adalah penggalan lirik dari video klip yang dinyanyikan beberapa artis ternama yang sering kita lihat di televisi, dimotori oleh Cameo Project. Video klip yang berjudul “Bajak Lagu Ini” memang tidak untuk dikomersilkan, namun yang melihat di youtube sudah melewati angka 50.000, luar biasa. Saking banyaknya yang melihat, klip ini juga sempat masuk di acara Trending Topic disebuah TV swasta Nasional pada tanggal 9 Maret lalu. Ternyata, setelah ditelusuri apa maksud dan motif dibuatnya klip ini tidak lain adalah bentuk sindiran atas maraknya pembajakan dan kurang efektifnya antisipasi dari pihak – pihak yang berwenang sehingga mereka yang tergabung dalam pembuatan video klip ini merasa mereka perlu bersuara atas “Pembajakan karya seni” yang mereka alami saat ini. Karya seni berupa video klip adalah salah satu dari beberapa yang sering menjadi target Pembajakan, sebut saja film, lagu, bahkan perangkat lunak.

Mari kita lihat dari beberapa sudut pandang atas fenomena ini. Dilihat dari sudut pandang hukum, jelas negara sangat tidak mentolelir perbuatan pembajakan sebuah karya tanpa seizin pembuat karya tersebut. Silakan lihat Pasal 34 Undang-Undang ITE Tahun 2008 dan Undang-Undang Hak Cipta sebagai referensi hukumnya. Bagi yang akrab dengan perangkat lunak baik untuk komputer maupun gadget, pasti sering melihat EULA (End-User Lisence Agreement); dibaca ataupun tidak, yang isinya pun sama saja dengan undang-undang yang saya sebutkan sebelumnya. Jadi secara hukum, rasanya cukup jelas tertera untuk perkara “membajak”. Sehingga dengan adanya legalitas dari sudut pandang hukum, akan membuat orang mengurungkan niatnya untuk melakukan pembajakan sebuah karya. Apapun itu.

Secara ideal, memang telah diatur dari segi hukum. Namun tidak ada salahnya jika kita melihat dari sisi realita. Kegiatan “Membajak” ini dilakukan oleh hampir semua kalangan pada masa saat ini. Sangat masif, bahkan sudah menjadi hal yang lumrah. Saya teringat sebuah petikan bang napi di TV; bahwa kejahatan bukan terjadi karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Ya, kesempatan. Banyak kesempatan, yang penting bisa online. Search engine merupakan kesempatan yang mutlak bisa dipergunakan. Tidak perlu pintar menggunakan search engine, tinggal ketik saja apa yang mau kita cari dan Voila! Selamat memilih dan mengunduh. Bagi pengguna level lanjut, opsi mendapatkan hasil karya “bajakan” lebih terbuka lebar. Selain bisa menggunakan search engine, menggunakan Torrent bisa dijadikan pilihan karena banyak sekali diluar sana dan dibelahan dunia manapun orang -orang secara anonim mau berbaik hati membagi hasil karya “bajakan”. Terganjal dengan lisensi dan masalah trial? Pengguna level lanjut dan mahir tentu tidak patah arang, asalkan bisa online sudah cukup sebagai modal mencari kunci untuk mematahkan lisensi dan masalah trial tersebut. Luar biasa.

Memang menjadi suatu keadaan yang bertolak belakang. Hukum sudah mengatur sedemikian rupa, namun pelanggaran yang ada sudah bersifat masih dan berjama’ah bahkan susah untuk ditanggulangi. Studio rekaman, rumah produksi, bahkan vendor perangkat lunak sudah melakukan klaim bahwa mereka mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat tindakan pembajakan ini. Berapa waktu yang habis dalam membuat sebuah klip lagu atau film, dan berapa energi yang dihabiskan oleh para programmer sebuah vendor dalam menciptakan sebuah perangkat lunak yang sempurna. Semua butuh pengorbanan, butuh apresiasi; terutama dari hasil penjualan dan kebutuhan lainnya yang justru tidak didapat karena ulah si “pembajak”.

Disisi lain, banyak para pembajak yang memiliki jiwa anti kapitalisme ini justru menjadi seperti “Robin Hood” diera digital. Tidak lah sedikit dana yang harus dikeluarkan untuk membeli sebuah album lagu atau film yang diedarkan secara sah atau legal sehingga menjadi sebauh mimpi jika ingin menikmati sebuah album lagu atau film yang kini tengah beredar. Begitu juga dengan perangkat lunak, harga perangkat lunak yang dibuat dengan kurs USD tentunya akan fluktuatif jika dikonversikan dengan mata uang IDR milik kita. Ditambah lagi harganya tidaklah murah, bahkan beberapa aplikasi yang berlisensi sudah membatasi jumlah pemakaian aplikasi tersebut untuk beberapa komputer saja. Banyak yang mengatasnamakan kebutuhan yang urgent sehingga kegiatan “membajak” menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi, sehingga peran Robin Hood era digital ini sangatlah vital.

Dari fenomena-fenomena yang saya paparkan tersebut, bukanlah mustahil untuk mencari solusinya. Sebagai contoh, ada hal menarik yang dilakukan oleh usaha waralaba KFC dengan memberikan bonus CD album lagu beberapa artis terkenal ketika membeli sebuah paket yang ditawarkan. Hasilnya, sebut saja Cinta Laura, IDP, Rossa, SM*SH dan Noah pernah menembus angka 1 Juta lebih untuk kategori penjualan keping CD terbanyak. Operator penyedia telekomunikasi pun tidak kalah berperan dalam mengatasi masalah ini, sebut saja layanan nada sambung pribadi maupun layanan unduh lagu dengan harga terjangkau. Untuk industri perangkat lunak, para vendor semakin terbuka untuk melakukan deal dengan para pelanggan yaitu memperjualbelikan aplikasi secara dengan bentuk paket sehingga harga lebih terjangkau. Selain itu, semakin marak istilah in app software diterapkan oleh vendor-vendor perangkat lunak. Sehingga software yang telah diunduh dan dipergunakan secara gratis dapat ditingkatkan kemampuannya dengan cara pelanggan harus membayar untuk mendapatkan fitur-fitur yang lebih lengkap. Dan yang terakhir tentu saja bagi yang membeli gadget baru tidak perlu lagi membeli lisensi untuk perangkat lunak yang digunakan karena biaya lisensi sudah termasuk paket penjualan. Menarik jika terus mengamati perkembangan cerita untuk mengatasi pembajakan ini. Semoga semakin mempersempit bahkan menghilangkan gap antara yang menghasilkan karya dan yang menikmati karya. Aamiin.

 

====================================================

Tentang Penulis: Diki Arisandi M.Kom, selain berprofesi sebagai dosen di Program Studi Teknik Informatika UNIVRAB, juga tengah diamanahi sebagai Ketua Prodi TI. Diki, begitu pria ini biasa disapa menimba ilmu S2 Ilmu Komputer UPI "YPTK" Padang. Pria kelahiranKarang Ampel (Jawa barat) pada 12 Juli 1985 tercatat sebagai alumni S1 Teknik Informatika UNIVRAB. Ia menyatakan kebahagiaan dan kebanggaannya bisa kembali ke almamater sebagai dosen di tempat ia menimba ilmu S1 dulu.

==================================================== 

Berita Lainnya
15 Februari 2016 09:07:56 WIB

Mati Surinya Terminal AKAP Payung Sekaki

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (TBRPS) merupakan terminal terbesar yang

02 April 2016 15:02:44 WIB

Mahasiswa Modern Hilang Semangat Mengenal Allah

Tuntutan dalam pendidikan ternyata tidak sepenuhnya menghasilkan generasi baik. Disaat

31 Desember 2015 17:37:37 WIB

Dia Sang Nabi

Rasul agung itu bernama Muhammad. Sebuah nama baru masa itu.