Tulisan: Hizra Marisa S.Ip M.Si

e-ASEAN: Peran Perguruan Tinggi dalam Integrasi Teknologi


Ditulis oleh Hizra Marisa, pada : 26 Januari 2016 10:09:28 WIB


Sebuah tagline “Dunia dalam genggaman” bukan lagi sebuah wacana, terutama di era 2016 ini. Dimana masyarakat Asia khususnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tengah gencar menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN yang merupakan turunan dari Asean Free Trade Area (AFTA). Kata kuncinya adalah Globalisasi. Artinya tiada lagi batasan antar negeri (borderless) baik itu untuk perpindahan barang, jasa, modal, manusia, teknologi, pasar dan masih banyak hal lainnya.

Di era MEA, semua negara ASEAN harus bisa menghadirkan kondisi persaingan yang kompetitif. Kesepuluh negara yang bersaing secara friendly competition tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Jangan heran jika tahun ini bangsa asing akan sering wara-wiri di negeri kita dan tidak menutup kemungkinan juga kita akan dengan mudahnya bekerja dan berbisnis di Negara ASEAN lainnya. Itu idealnya.

Struktur tersebut mengakibatkan semua bangsa di dunia termasuk Indonesia, mau tidak mau akan terlibat dalam suatu tatanan global yang seragam, pola hubungan dan pergaulan yang seragam khususnya dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin pesat terutama teknologi komunikasi dan transportasi, menyebabkan isu-isu global tersebut menjadi semakin cepat menyebar dan menerpa pada berbagai tatanan, baik tatanan politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan keamanan. Dengan kata lain globalisasi yang ditunjang dengan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadikan dunia menjadi transparan tanpa mengenal batas-batas negara

Menariknya, ASEAN menyadari salah satu bidang yang akan semakin sophisticated dan punya selling point yang besar adalah teknologi. Bahkan ASEAN meluncurkan e-ASEAN. Pada dasarnya e-ASEAN didirikan untuk memanfaatkan peluang-peluang dari adanya revolusi dalam teknologi informasi dan komunikasi (TI), dan e-Commerce di ASEAN terutama di era MEA. Ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan dalam hal ekonomi, masyarakat dan pemerintah, tiga pilar penting yang merupakan main actor dari era tanpa batas tersebut.

Ada 6 pilar e-ASEAN yang disuguhkan bagi negara-negara anggota untuk diimplementasikan yakni menetapkan infrastruktur informasi di ASEAN, memfasilitasi pertumbuhan e-Commerce, membebaskan perdagangan dan investasi dalam hal teknologi informasi dan komunikasi (ICT), memfasilitasi perdagangan produk dan servis dari teknologi informasi dan komunikasi (ICT), membangun kapasitas dan suatu e-Society dan mempromosikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam pengaplikasian e-Government.

Enam pilar tersebut memaksa Negara untuk bisa memanfaatkan teknologi seluas-luasnya, akses informasi yang tiada batasnya serta penggunaan teknologi digital akan lebih sangat pesat. Lewat internet, perusahaan bisa melakukan analisis data untuk membuka pasar baru. Dari data BPS didapatkan potensi transaksi via internet pada tahun 2014 lalu hanya US$23 miliar, diperkirakan bisa naik berkali lipat menjadi US$500 miliar pada 2020 mendatang. Dengan integrasi teknologi digital dalam e-ASEAN, daya saing pengusaha akan lebih meningkat.

Teknologi juga akan menguatkan jutaan pelaku usaha UKM (Usaha Kecil Menengah) di Tanah Air. Akses terhadap pendanaan, teknologi, pemasaran, termasuk analisis data yang berbasis cloud tak akan lagi menjadi masalah. Inilah pentingnya teknologi digital. Anggota ASEAN akan memanfaatkan TI dan komunikasi untuk menyambut National Single Window (NSW) bidang perdagangan. Ini artinya jika ingin melakukan ekspor, suatu negara tidak perlu datang ke pelabuhan untuk mengurus perizinan. Mau melakukan ekspor-impor di mana pun akan mudah dengan memanfaatkan sistem NSW. Memanfaatkan teknologi berbasis internet.

Kalau kita tarik peluang ini dengan kenyataan lapangan yang masih menjadi momok di masyarakat Indonesia tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita laksanakan dan benahi. Salah satunya kesiapan SDM.

Sejauh ini, manusia Indonesia dalam impelementasi teknologi masih berperan dalam tataran konsumen. Kita memang masih tertinggal jauh dengan negara tentangga lainnya. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World Competitiveness Report menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40). Dalam hal ini dapat dilihat bahwa Indonesia masih sangat jauh tertinggal dalam persaingan global. Kualitas SDM harus ditingkatkan baik secara formal dan informal, tentu saja peran Perguruan Tinggi sebagai pencetak SDM harus bias lebih progresif dan proaktif melakukan perubahan khususnya dalam bentuk teknis sistem pengajaran.

 

e-ASEAN dan Perguruan Tinggi:

Khusus dalam bidang IPTEK (Ilmu Pengertahuan dan Teknologi), konsep teknologi yang ditawarkan oleh e-ASEAN ini sebenarnya memiliki berdampak bagus pada sektor pendidikan. Proyek untuk membangun sebuah jaringan perpustakan online, ASEAN SchoolNet dimana proyek untuk menghubungkan sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi di ASEAN, membangun fasilitas komputer melalui kemampuan jalur lebar (broadband) dan mengembangkan pembelajaran multimedia adalah hal implikatif yang harus digesa dan didorong pelaksanaannya.

Dalam hal ini, Indonesia bisa melihat pengalaman Cina. Saat ini, jumlah penduduk yang besar bukan menjadi masalah utama bagi Cina. Pemerintah Negara “Tirai Bambu” tersebut telah bereksperimen dengan kebijakan untuk memacu perkembangan IPTEK demi mencapai keberhasilan negara. Penguasaan IPTEK di Cina telah berkembang dengan pesat mulai dari bidang perekonomian (penanaman modal) hingga produksi. Salah satu program pemerintah yang berpengaruh luas adalah The Torch Plan yang mencakup pengembangan berbagai kawasan hi-tech (high-technology). Begitu pula dalam bidang pendidikannya.

e-ASEAN yang salah satu butirnya membangun kapasitas dan e-Society sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang merupakan salah satu tujuan pencapaian yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi. Karena setiap perguruan tinggi haruslah melahirkan orang – orang yang memiliki semangat juang yang tinggi, diri yang selimuti pemikiran – pemikiran yang kritis, kreatif, mandiri, inovatif dan sebagainya.

Beberapa Universitas di Tanah Air telah menapaki hal tersebut, dengan dijalinnya kerjasama dengan berbagai perusahaan global. Salah satunya Universitas yang ada di tanah melayu yakni Universitas Abdurrab (UNIVRAB), ditandai dengan telah dijalinnya kerjasama dengan perusahaan besar sekelas Google.

Kerjasama tersebut terangkai dalam Google Application For Education (GAFE) yang telah termaktub dalam sebuah MoU sejak 27 April 2011. Ini salah satu upaya yang dilakukan oleh pemangku kebijakan UNIVRAB yang bisa mendorong dan membuat mahasiswa serta alumni yang keluaran dari universitas bisa lebih kompetitif saat ini, lebih responsif dan progresif melihat peluang, jeli melihat pasar karena telah terasah dan terbiasa dalam implementatif teknologi. Hal tersebut dilakukan UNIVRAB lewat peningkatan infrastruktur, perbaikan birokrasi, penerapan teknologi tepat guna melalui pelaksanaan GAFE.

Mahasiswa yang nantinya akan menjadi SDM Indonesia telah ditempa dengan teknologi, ini saja sudah merupakan modal awal dan good starting yang baik untuk menuju masyarakat yang independen.

UNIVRAB dalam hal ini mau tidak mau dituntut untuk menemukan tool yang tepat dalam pengejewantahan teknologi dalam era MEA ini. Dengan GAFE kelas-kelas perkuliahan bukan hanya tentang sistem tatap muka secara fisik antara pengajar dan mahasiswa namun kelas-kelas virtual dimana bersifat mobile accesable, pemanfaatan video conference dengan menggunakan teknologi Google Hangoutstorage capacity yang tanpa batas serta ratusan aplikasi gratis yang terintegrasi dalam GAFE merupakan peluang emas yang bisa dimanfaatkan civitas akademika.

Tidak hanya mahasiswa sebagai calon SDM yang akan merasakan manfaat dari integrasi teknologi skala dunia tersebut tetapi juga para pendidik dan pegawai di Universitas. Tiga pilar penting yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

Otokritik: Tantangan dan Harapan

e-ASEAN yang merupakan salah satu butir dari pelaksanaan MEA adalah adopsi teknologi yang akan membantu usaha pemerintah mengurangi angka pengangguran, meningkatkan jumlah wirausahawan baru untuk mempercepat perluasan kesempatan kerja, termasuk meningkatkan perhatian pada sektor pendidikan dan perguruan tinggi.

Sudah saatnya IPTEK dijadikan untuk meningkatkan daya saing di Perguruan Tinggi agar dapat berdaya saing di tingkat Nasional dan Internasional. Jika tak ada kesiapan menghadapi MEA dan e-ASEAN bukan tidak mungkin Perguruan Tinggi di Indonesia dapat tersisihkan di negeri sendiri.

Kesiapan Teknologi Informasi dalam scope Universitas menjelang e-ASEAN sangat dipengaruhi oleh tingkat kemauan dan kemajuan yang bersangkutan karena terdapat batasan anggaran untuk membangun infrastruktur TI. Kesenjangan digital yang terjadi bisa memberikan peluang dan tantangan tersendiri bagi Universitas itu sendiri.

Contohnya biaya untuk menggelar infrastruktur internet. Lebih luas jika berbicara tentang Negara, ini adalah tantangan untuk meningkatkan perkembangan TI yang mapan berpeluang untuk menciptakan produk dan inovasi baru dengen biaya yang lebih efisien, lebih khusus pada tingkat Perguruan Tinggi. Belum lagi kesiapan teknisi dan SDM yang akan menggerakkanya dilini Universitas juga perlu ditinjau ulang, selanjutnya kesiapan mental dalam hal ini sikap open minded menerima jendela informasi teknologi juga harus perlu dipupuk dan terakhir yang lebih penting adalah masalah kesiapan sistem security jaringan yang harus diperkuat.

Sekalipun tantangan e-ASEAN dan implementasinya di Tanah Air khususnya dalam sektor Perguruan Tinggi cukup berat, namun optimisme kita harus tetap dibangun agar bisa menghadapi e-ASEAN dan MEA dengan semangat dan kepala tegap, bukan menunduk lemah. Ibarat kata pepatah melayu lama “Kalau tidak dipecahkan ruyung, manakan dapat sagunya” Tak akan tercapai suatu tujuan kalau tak mau berusaha dan bersusah payah. Insyaallah.

 

========================================

*tentang penulis: Hizra Marisa S.Ip M.Si, perempuan kelahiran Pekanbaru 31 tahun yang silam ini sejak 4 tahun terakhir diamanahkan sebagai Google Champ Indonesia untuk Riau. Hizra aktif mensosialisasikan dan menjadi mentor pada pelatihan Google Apps For Education (GAFE) di berbagai PTN dan PTS se-Riau, juga menjadi pembicara dan narasumber pada kegiatan ICT (Information & Communication Technology) diberbagi acara seminar. Dosen tetap sekaligus Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Abdurrab ini memiliki passion yang tinggi pada bidang teknologi. Ini terlihat dalam kegiatan perkuliahannya yang sejak 5 tahun terakhir sangat ramah lingkungan (Go Green -red) dan paperless (tanpa kertas -red) dengan pengaplikasiaan GAFE dan Kelas Virtual miliknya. Kini Hizra tengah aktif mensosialisasikan penggunaan GAFE di lingkungan UNIVRAB. Hizra berpendapat bahwa Teknologi dan Pendidikan adalah dua hal yang harus kita sandingkan diera MEA ini.

=========================================

Berita Lainnya
11 Januari 2016 10:45:25 WIB

Nationalism

Benedict Anderson defined a nation as "an imagined political community

15 Februari 2016 09:07:56 WIB

Mati Surinya Terminal AKAP Payung Sekaki

Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (TBRPS) merupakan terminal terbesar yang

15 Maret 2016 20:01:28 WIB

Jadi Monggo, Silahkan Bajak Lagu Ini !

Judul opini ini adalah penggalan lirik dari video klip yang